Peperangan Di Zaman Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi Wa Sallam (Bag.3)

Peperangan Di Zaman Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi Wa Sallam (Bag.3) – Pada 680-an seorang pendeta bernama John Bar Penkaye yang sedang menyusun sejarah dunia termenung tentang ihwal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Ia bertanya-tanya, “Bagaimana bisa, orang-orang tanpa senjata, berkuda tanpa baju baja dan perisai, berhasil memenangkan pertempuran… dan meruntuhkan semangat kebanggaan orang-orang Persia?” Ia semakin terenyak, “hanya dalam periode yang sangat singkat seluruh dunia diambil alih orang-orang Arab; mereka menguasai seluruh kota yang dikuasai benteng, mengambil alih pengawasan dari laut ke laut, dan dari timur ke barat –Mesir, dari Crete ke Cappadocia, dari Yaman ke Pegunungan Kaukasus, bangsa Armenia, Syiria, Persia, Biyzantium, dan seluruh wilayah di sekitarnya.” (Kennedy, 2008: 1).

Apa yang membuat penaklukkan muslim Arab begitu mencengangkan dengan efek permanennya yang terjadi dalam Bahasa dan agama? Apa yang membuat wilayah-wilayah taklukkan yang multikultural dari segi Bahasa dan agama menjadi berbaur dan menyatu?

Anda akan dengan mudah menjawab dua pertanyaan di atas jika mengikuti tulisan ini dari awal. Ya, perang yang dilakoni oleh umat Islam berbeda dengan perang-perang lainnya. Ya, cara umat Islam memperlakukan musuh, tawanan, dan daerah taklukkanlah membuat hati-hati manusia tunduk sebelum mereka wilayah mereka ditaklukkan.

Penulis sepenuhnya menyadari, hal ini akan sulit dipahami oleh para pembaca. Karena kita menyaksikan pemberitaan tentang dunia Arab, melulu bermuatan negatif. Sadar tidak sadar, otak kita “dicuci” hingga di antara kita sampai bertanya-tanya, mengapa Islam diturunkan di Arab? Lalu jawaban pun terlontar, diturunkan Islam di sana saja tingkah mereka masih demikian, bagaimana kalau Islam tidak turun di sana. Media telah berhasil mencuci otak kita. Dan kita pun tidak mengimbanginya dengan membaca sejarah kita, sejarah kaum muslimin.

Dalam artikel ke-3 ini, penulis akan mencuplikkan peperangan Rasulullah dari perang yang ke-20 hingga ke-27.

Kedua puluh: Perang Hudaibiyah.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 6 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama 1400 orang sahabatnya hendak menunaikan umrah. Sesampainya di Hudaibiyah mereka dihalangi oleh orang-orang Quraisy. Lalu terjadilah perjanjian damai.

Kedua puluh satu: Perang Khaibar

Perang besar ini terjadi pada bulan Muharam tahun ke-7 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 1400 orang pasukan infantri dan 20 pasukan berkendara menghadapi 10.000 orang Yahudi Khaibar yang dipimpin oleh Kinanah bin Abi al-Haqiq.

Sebelumnya, orang-orang Yahudi telah memerangi umat Islam pada Perang Uhud dan Ahzab. Kemudian dari Khaibar, mereka berencana menyerang Madinah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendahului rencana mereka. Dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.

Dalam perang ini, 50 orang sahabat Nabi terluka dan 18 gugur di medan tempur. Sementara dari pihak Yahudi 93 orang tewas.

Kedua puluh dua: Perang Wadi al-Qura.

Perang ini terjadi pada bulan Muharam tahun 7 H. Setelah tuntas menghadapi Yahudi di Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 1382 orang sahabatnya menghadapi Yahudi Wadi al-Qura. Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan 11 orang Yahudi tewas.

Kedua puluh tiga: Perang Dzatu ar-Riqaq.

Perang ini terjadi pada bulan Muharam tahun 7 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 400 orang sahabatnya menghadapi pasukan sekutu orang-orang musyrik dari Bani Ghathafan, Bani Muharib, Bani Tsa’labah, dan Bani Anmar.

Perang ini dilatar-belakangi oleh seruan Bani Ghathafan kepada sekutu-sekutunya untuk berangkat menyerang umat Islam di Madinah. Namun, setelah mengetahui kaum muslimin telah bersiap meladeni mereka, mereka pun lari dan tercerai-berai.

Kedua puluh empat: Penaklukkan Kota Mekah.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 10.000 orang sahabatnya untuk menyerang Mekah yang telah membatalkan perjanjian damai di Hudaibiyah. Mekah memerangi Bani Bakr yang merupakan sekutu Nabi dalam perjanjian tersebut.

Peristiwa ini berakhir dengan menyerahnya orang-orang Mekah. Akhirnya, setelah 8 tahun berpisah, Rasulullah kembali menginjakkan kaki beliau di tanah kelahirannya tersebut.

Kedua puluh lima: Perang Hunain atau Perang Awthas atau Perang Hawazin.

Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun 8 H/630 M. Kaum muslimin memiliki pasukan yang begitu besar, karena orang-orang Mekah telah menjadi bagian dari keluarga kaum muslimin. Saat itu, Rasulullah memimpin 12.000 sahabatnya untuk menghadapi sekutu orang-orang Hawazin, Tsaqif, Bani Muiz, Bani Hilal, dll.

Perang ini dilatar-belakangi kekhawatiran orang-orang Hawazin setelah mendengar umat Islam menaklukkan Mekah. Setelah Mekah jatuh, mereka menyangka kaum muslimin akan memerangi mereka. Mereka pun menyiapkan pasukan untuk menyerang umat Islam terlebih dahulu. Mendengar kabar tersebut Rasulullah mengirim mata-matanya menuju Hawazin dan akhirnya beliau siapkan 10.000 pasukan yang ikut bersama beliau dalam penaklukkan Mekah ditambah 2000 pasukan dari Mekah.

Kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran ini. Namun karena kecerobohan kaum muslimin di awal perang, mereka menderita kerugian yang cukup besar dengan 6 orang gugur di medan perang dan 6000 lainnya terluka. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26).

Sementara dari pihak orang-orang musyrik 71 orang tewas terbunuh.

Kedua puluh enam: Perang Thaif

Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun 8 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 12.000 pasukannya menghadapi Bani Tsaqif di Thaif. Rasulullah mengepung perkampungan mereka dan akhirnya mereka menyerah dan memeluk Islam.

Kedua puluh tujuh: Perang Tabuk.

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H. Sebelumnya, pada Jumadil Awal tahun 8 H, Romawi cukup dibuat terkejut dengan perlawanan umat Islam di Perang Mu’tah. Akibat dari peperangan itu, kabilah-kabilah Arab yang dijajah Romawi mulai berani melakukan pembangkangan. Dalam Perang Mu’tah juga, gugur sahabat-sahabat dekat Rasulullah dan panglima Perang Mu’tah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhum.

Untuk membuat perhitungan terhadap umat Islam, Romawi merencanakan menyerang Madinah. Kabar tersebut sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau siapkan 30.000 sahabatnya menghadapi negara adidaya Romawi itu di Tabuk.

Peristiwa ini berakhir tanpa kontak senjata, karena orang-orang Romawi enggan menghadapi kaum muslimin di Tabuk, mereka lebih senang jika Rasulullah dan pasukannya mendatangi benteng mereka di Syam. Padahal Rasulullah telah beberapa hari menunggu kedatangan mereka di Tabuk.

Hal ini semakin menambah kewibawaan Negara Islam Madinah di hadapan Romawi dan bangsa Arab secara umum.

Penutup

Demikianlah di antara peperangan yang terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, khususnya yang beliau pimpin secara langsung. Dari kisah peperangan ini, kita bisa melihat sosok manusia sekaligus utusan Allah yang memiliki kemampuan yang begitu komplit.

Tidak ada seorang pemimpin yang menguasai seluruh bidang dengan begitu detilnya, kecuali beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki kemampuan manajerial yang utuh dalam bidang pemerintahan, ekonomi, militer, dll. Membaca kisah-kisah peperangan beliau, penulis merasakan takjub yang luar biasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengorganisir pasukannya sedemikian rupa dan pengenalan beliau terhadap medan pertempuran sangat detil.

Lihatlah di Uhud, beliau tempatkan pasukan-pasukan pada pos-pos yang sangat strategis, beliau mampu melakukannya dengan timing yang tepat sebelum orang-orang Mekah tiba di Uhud sehingga musuh tidak mampu berbuat apapun. Jika pasukan pemanah tidak melanggar perintah beliau, kemenangan di Uhud pun akan diraih dengan mudah. Demikian juga apa yang terjadi di pada Perang Bani Lihyan, Rasulullah tidak membiarkan sahabatnya mengejar orang-orang Bani Lihyan hingga ke balik bukit. Karena beliau tahu, medan tersebut akan mengakibatkan pasukan Islam terlihat oleh orang-orang Mekah, dan Mekah akan menyangka kalau umat Islam akan menyerang mereka. Ketika Mekah merespon, jumlah umat Islam di Perang Bani Lihyan tidak akan sanggup menghadapi mereka.

Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini dapat menjadi pembelajaran bahwa perang umat Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang dicitrakan oleh media-media Barat. Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini menjadikan cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kian bersemi.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Subscribe to receive free email updates: